Senin, 17 Juni 2013



Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia….

Hari ini adalah hari ke-23 kematian perempuan yang telah melahirkanku. Kematian yang memang sudah aku tunggu. Bodoh ! Kalian pikir aku anak durhaka yang mendoakan ibunya mati ? Bukan ! Justru itu karena ketololan perempuan itu sendiri. Dulu, sudah berkali-kali aku dan kakak sekandungu mengajaknya ke dokter  untuk memeriksakan penyakitnya tapi wanita itu ngotot tidak mengiyakan ajakanku itu. Sekarang lihat ! Berani-beraninya dia pergi dan menelantarkanku tanpa kasih sayang seorang ibu.

Pembunuh itu datang sekitar tiga tahun yang lalu. Pembunuh yang menguras daging-daging ibuku hampir separuh tubuhnya. Yang awalnya 65 kg mungkin hanya tersisa 25 – 30 kg. pembunuh itu menghasilkan cairan yang membanjiri paru-paru ibuku yang membuatnya susah bernafas hingga bermalam-malam tidak bisa menidurkannya dengan nyenyak, yang membuatnya selalu menganga karena kesulitan mengeluarkan udara dari mulutnya. Pembunuh itu membuatnya kalah dengan kehidupan sehingga ia tak bisa apa-apa tanpa sebuah tongkat yang menyangganya. Pembunuh itu sekarang terkubur dengan wanita yang ku puja yang ku cinta di dalam tanah.
Hari ke 23, waktu yang sepertinya sedikit dan memang benar sangat sedikit tapi angka 23 saat ini terasa lama dibandingkan 18 tahun ini. 23 hari yang yang tidak bisa mengalihkankanku pada sosok yang ku panggil ibu. Setiap aku membuka mata maka hanya akan ada wajah ibu, bagaimana ia menahan sakit, bagaimana ibu harus memotivasi dirinya demi untuk melihatku meraih cita-cita yang baru saja ku awali. Pandanganku tak pernah beralih dari ibu. Maka teman setiaku hanyalah tangis, air mata, dan Tuhan. Berawal dari sebuah keikhlasan yang lama-lama timbul protes kepada Tuhan yang membiarkanku seperti kehilangan jiwaku. Aku seperti tidak sanggup. Seperti berjalan tak memandang arah, tidak tahu apa yang ada di depanku. Aku hanya berjalan. Berjalan terserah kaki membawa ke mana.
Dulu, seingatku aku menyukai angka berapapun. Tapi sekarang sepertinya aku tidak menyukai angka-angka itu, apalagi angka 23. Bukan karena angka itu ganjil atau karena angka itu terdiri dari angka dua atau angka tiga. Tapi angka itu sekarang justru mengingatkanku akan segala hal yang ku lakukan bersama seorang wanita yang sedang tidur sendirian di tanah makam. aku ingat segala detail yang ku lakukank bersamanya.
Setiap hari jum’at aku pulang ke rumah dan disambut dengan suaranya “loooh anakku wes moleh rek, pintere”. Dan setiap sabtu aku memandikannya dengan air hangat yang selalu membuat dadaku sakit menahan tetesan cairan mataku yang jika kujatuhkan sama saja dengan mematahkan motivasi ibuku untuk sembuh. Dan setiap minggu aku selalu mencium kedua pipinya saat akan kembali ke tempat perkuliahanku.
Tidak hanya itu, aku ingat setiap lekukan tubuhnya saat aku membasuhnya dengan air dan sabun tubuh itu sepertinya tinggal kulit dan tulang. Tulang-tulangnya yang menonjol seperti kehilangan daging yang begitu banyak sehingga membuatku sedikit takut untuk menyentuhnya. Aku ingat saat aku harus membersihkan rambutnya dengan shampoo dan aku harus membasuhnya dengan perlahan karena jika banyak air mengalir di hidungnya maka ia akan sulit bernafas dan menjadi sesak nafas.
Memori-memoriku tentang perempuan usia 47 tahun sekarang terurai deras. Aku hafal ketika ibuku mengalami kebotakan karena kemoterapi herbal. Rambutnya rontok sedikit demi sedikit karena ramuan-ramuan itu. Ramuan-ramuan itu juga berfungsi mengurangi borong yang sudah membesar yang memakan bentuk payudara ibu sebelah. Ramuan itu berbentuk cair dan bubuk. Bubuk itu harus ku taburkan pada borok itu setiap selesai mandi. Dengan atau tanpa darah yang biasanya mengalir deras, aku harus tetap menaburkannya. Miris melihat borok yang dengan kejam menghabiskan usia ibu dengan kesakitan. Aku seperti ingin protes pada Tuhan yang tidak memberitahuku alasannya menjadikan ibuku penderita kanker payudara. Aku marah, aku tidak bisa terima dan aku dipaksa menerima.
Setiap detik aku tidak pernah mengalihkan pandanganku dari ibu, ibu ibu ada atau sudah di alam fana. Fonis-fonis dari dokter itu selalu membuatku takut akan hari itu. Dan hari itu memang harus ku temui.
Jatuh pada minggu 7 april 2013, sekitar pukul 07.30 sepertinya malaikat pencabut nyawa bersiap menggelandang nyawa perempuan yang kutemani saat itu. Kupandang tubuh tidak berdaya ibu kandungku yang nafasnya sudah bersiap menghilang dari paru-parunya. Aku bingung, takut karena di sampingku hanya ada kakak perempuanku. Maka yang hanya bisa ku lakukan yaitu menuntun ibuku dalam peaduannya dengan sang pencipta. Setiap detik ku bisikkan dan ku ajak ibu berkata “Laailahaillah” sesekali ku tanyai apakah ibu masih bisa mendengar ucapanku. Dengan menahan tangis aku melihat anggukan ibu yang mengiyakan bahwa ia masih mendengar ucapan dan ajakanku. Terakhir kali aku meminta untuk mengucapkan kalimat yang ku bisikkan dan seketika itu ibu mengucapkannya dan akhirnya mengabaikan kalimat-kalimatku. Tangisku pecah, ibu sudah tidak mengenali siapapun yang ada di sekitarnya dan itu artinya aku harus melihat ibuku tidur selama-lamanya.
Sekita satu jam ibu beradu dengan maut. Aku tetap barada di sampingnya. Menciumi pipi dan keningnya sekaligus berjaga apakah nafas terakhirnya telah usai. Kakiku serasa kaku tak sanggup berada di tempat itu. Melihat nafasnya yang sudah bisa ku hitung dengan ke sepuluh jariku. Aku semakin tidak percaya wanita yang sudah menemaniku selama bertahun-tahun akan segera pergi secepat ini. Dan akhirnya tepat pukul 08.45, ibu selesai berperang dengan maut dan terbujur tenang tanpa sakit tanpa erangan seperti biasanya. Aku diam, sesekali menangis. Aku tidaka tahu apa yang sebenarnya ku tangisi. Entah karena aku harus berpisah dan tidak akan bertemu untuk selamanya dengan perempuan itu atau karena aku merasa kehilangan sosok wanita tegar yang sudah mengajariku pahit manis hidup.
Aku diam, aku seperti baru saja dibangunkan dari mimpi dan baying-bayang kematian yang akan segera menjemput ibu dan faktanya sekarang maut itu sudah menemui ibuku. Ad perasaan lega melihat ibu berbaring dengan tenang dan lega. Ibu sudah tidak merasakan susahnya bernafas, susahnya tidur, bahkan untuk bergerak. Ibu sudah kaku, sudah memucat, dan sudah tidak bisa berbicara denganku.
Aku menangis lagi. Saat jenazah ibu dikeluarkan dari ambulance. Aku tidak rela wajah ibu harus ditutup kain. Bagaimana kalau ibu tidak bisa bernafas ? ibu pasti marah. Bodoh ! aku seperti orang gila batinku menggerutu seperti itu.
Aku harus memandikan ibu, harus mengantar ibu hingga rumah terakhirnya. Itu semua hal terakhir yang harus ku lakukan sebelum aku terpisah dengan raga ibu. Aku hancur saat harus mengusap sabun di kaki ibu. Aku kesal mengapa ibu tidak cerewet seperti biasa ku mandikan. Bahkan ibu hanya diam, membeku dan tidak sepatah katapun ia keluarkan. Aku tidak terima oarng-orang menggulingkan ke kiri dank e kanan seenaknya. Aku seperti orang gila. Apa memang ini pertanda awal kegilaanku. Bukan ! aku masih waras. Aku hanya butuh waktu untuk menghadi kematian yang menjemput ibu.
Akhirnya, kain putih yang ku benci itu menutupi seluruh bagian tubuh ibu. Aku sudah tidak bisa menatap mata ibu, menciumi pipi dan keningnya, bahakan aku tidak bisa menyentuhnya. Kami benar-benar terpisah. Entah ibu tahu tentang protesku ini atau tidak. Yang jelas aku marah dan marah, entah marah pada Tuhan atau marah dengan ketololan ibu waktu dulu.
Sudah, sudah ku tutup kematian ibu dengan mengantarnya ke rumah abadinya. Sudah bu jangan mengikutiku, karena itu semua sia-sia. Tidak akan mengurangi kemarahanku, kesedihanku tentang semua ini. Aku sudah lelah. Ibu sering mempermain hatiku. Dulu ibu bilang ingin sembuh dan pasti sembuh. Nyatanya apa ? sekarang aku ditinggalkan. Sudah bu, ini sudah cukup membunuhku perlahan. Lebih baik ibu istirahat, biar doa-doaku saja yang menjadi obat rinduku padamu.
Dan lagi, angka 23 seperti mengulas seluruh memoriku, menguras otakku dan menyadarkanku bahwa masih banyak angka-angka lain yang harus ku lewati dan itu artinya aku harus menjadi perempuan super. Wanita super ? untuk siapa ? bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk diriku sendiri.

Ratri GT

Tagged:

0 komentar:

Posting Komentar