Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia….
Hari ini adalah hari ke-23 kematian
perempuan yang telah melahirkanku. Kematian yang memang sudah aku tunggu. Bodoh
! Kalian pikir aku anak durhaka yang mendoakan ibunya mati ? Bukan ! Justru itu
karena ketololan perempuan itu sendiri. Dulu, sudah berkali-kali aku dan kakak
sekandungu mengajaknya ke dokter untuk
memeriksakan penyakitnya tapi wanita itu ngotot tidak mengiyakan ajakanku itu.
Sekarang lihat ! Berani-beraninya dia pergi dan menelantarkanku tanpa kasih sayang
seorang ibu.
Pembunuh itu datang sekitar tiga tahun
yang lalu. Pembunuh yang menguras daging-daging ibuku hampir separuh tubuhnya.
Yang awalnya 65 kg mungkin hanya tersisa 25 – 30 kg. pembunuh itu menghasilkan
cairan yang membanjiri paru-paru ibuku yang membuatnya susah bernafas hingga
bermalam-malam tidak bisa menidurkannya dengan nyenyak, yang membuatnya selalu
menganga karena kesulitan mengeluarkan udara dari mulutnya. Pembunuh itu
membuatnya kalah dengan kehidupan sehingga ia tak bisa apa-apa tanpa sebuah
tongkat yang menyangganya. Pembunuh itu sekarang terkubur dengan wanita yang ku
puja yang ku cinta di dalam tanah.
Hari ke 23, waktu yang sepertinya
sedikit dan memang benar sangat sedikit tapi angka 23 saat ini terasa lama
dibandingkan 18 tahun ini. 23 hari yang yang tidak bisa mengalihkankanku pada
sosok yang ku panggil ibu. Setiap aku membuka mata maka hanya akan ada wajah
ibu, bagaimana ia menahan sakit, bagaimana ibu harus memotivasi dirinya demi
untuk melihatku meraih cita-cita yang baru saja ku awali. Pandanganku tak
pernah beralih dari ibu. Maka teman setiaku hanyalah tangis, air mata, dan
Tuhan. Berawal dari sebuah keikhlasan yang lama-lama timbul protes kepada Tuhan
yang membiarkanku seperti kehilangan jiwaku. Aku seperti tidak sanggup. Seperti
berjalan tak memandang arah, tidak tahu apa yang ada di depanku. Aku hanya
berjalan. Berjalan terserah kaki membawa ke mana.
Dulu, seingatku aku menyukai angka
berapapun. Tapi sekarang sepertinya aku tidak menyukai angka-angka itu, apalagi
angka 23. Bukan karena angka itu ganjil atau karena angka itu terdiri dari
angka dua atau angka tiga. Tapi angka itu sekarang justru mengingatkanku akan
segala hal yang ku lakukan bersama seorang wanita yang sedang tidur sendirian
di tanah makam. aku ingat segala detail yang ku lakukank bersamanya.
Setiap hari jum’at aku pulang ke rumah
dan disambut dengan suaranya “loooh anakku wes moleh rek, pintere”. Dan setiap
sabtu aku memandikannya dengan air hangat yang selalu membuat dadaku sakit
menahan tetesan cairan mataku yang jika kujatuhkan sama saja dengan mematahkan
motivasi ibuku untuk sembuh. Dan setiap minggu aku selalu mencium kedua pipinya
saat akan kembali ke tempat perkuliahanku.
Tidak hanya itu, aku ingat setiap
lekukan tubuhnya saat aku membasuhnya dengan air dan sabun tubuh itu sepertinya
tinggal kulit dan tulang. Tulang-tulangnya yang menonjol seperti kehilangan
daging yang begitu banyak sehingga membuatku sedikit takut untuk menyentuhnya.
Aku ingat saat aku harus membersihkan rambutnya dengan shampoo dan aku harus
membasuhnya dengan perlahan karena jika banyak air mengalir di hidungnya maka
ia akan sulit bernafas dan menjadi sesak nafas.
Memori-memoriku tentang perempuan usia
47 tahun sekarang terurai deras. Aku hafal ketika ibuku mengalami kebotakan
karena kemoterapi herbal. Rambutnya rontok sedikit demi sedikit karena
ramuan-ramuan itu. Ramuan-ramuan itu juga berfungsi mengurangi borong yang
sudah membesar yang memakan bentuk payudara ibu sebelah. Ramuan itu berbentuk
cair dan bubuk. Bubuk itu harus ku taburkan pada borok itu setiap selesai
mandi. Dengan atau tanpa darah yang biasanya mengalir deras, aku harus tetap
menaburkannya. Miris melihat borok yang dengan kejam menghabiskan usia ibu
dengan kesakitan. Aku seperti ingin protes pada Tuhan yang tidak memberitahuku
alasannya menjadikan ibuku penderita kanker payudara. Aku marah, aku tidak bisa
terima dan aku dipaksa menerima.
Setiap detik aku tidak pernah
mengalihkan pandanganku dari ibu, ibu ibu ada atau sudah di alam fana.
Fonis-fonis dari dokter itu selalu membuatku takut akan hari itu. Dan hari itu
memang harus ku temui.
Jatuh pada minggu 7 april 2013, sekitar
pukul 07.30 sepertinya malaikat pencabut nyawa bersiap menggelandang nyawa
perempuan yang kutemani saat itu. Kupandang tubuh tidak berdaya ibu kandungku
yang nafasnya sudah bersiap menghilang dari paru-parunya. Aku bingung, takut
karena di sampingku hanya ada kakak perempuanku. Maka yang hanya bisa ku
lakukan yaitu menuntun ibuku dalam peaduannya dengan sang pencipta. Setiap
detik ku bisikkan dan ku ajak ibu berkata “Laailahaillah” sesekali ku tanyai
apakah ibu masih bisa mendengar ucapanku. Dengan menahan tangis aku melihat
anggukan ibu yang mengiyakan bahwa ia masih mendengar ucapan dan ajakanku.
Terakhir kali aku meminta untuk mengucapkan kalimat yang ku bisikkan dan
seketika itu ibu mengucapkannya dan akhirnya mengabaikan kalimat-kalimatku.
Tangisku pecah, ibu sudah tidak mengenali siapapun yang ada di sekitarnya dan
itu artinya aku harus melihat ibuku tidur selama-lamanya.
Sekita satu jam ibu beradu dengan maut.
Aku tetap barada di sampingnya. Menciumi pipi dan keningnya sekaligus berjaga
apakah nafas terakhirnya telah usai. Kakiku serasa kaku tak sanggup berada di
tempat itu. Melihat nafasnya yang sudah bisa ku hitung dengan ke sepuluh
jariku. Aku semakin tidak percaya wanita yang sudah menemaniku selama
bertahun-tahun akan segera pergi secepat ini. Dan akhirnya tepat pukul 08.45,
ibu selesai berperang dengan maut dan terbujur tenang tanpa sakit tanpa erangan
seperti biasanya. Aku diam, sesekali menangis. Aku tidaka tahu apa yang
sebenarnya ku tangisi. Entah karena aku harus berpisah dan tidak akan bertemu
untuk selamanya dengan perempuan itu atau karena aku merasa kehilangan sosok
wanita tegar yang sudah mengajariku pahit manis hidup.
Aku diam, aku seperti baru saja
dibangunkan dari mimpi dan baying-bayang kematian yang akan segera menjemput
ibu dan faktanya sekarang maut itu sudah menemui ibuku. Ad perasaan lega
melihat ibu berbaring dengan tenang dan lega. Ibu sudah tidak merasakan
susahnya bernafas, susahnya tidur, bahkan untuk bergerak. Ibu sudah kaku, sudah
memucat, dan sudah tidak bisa berbicara denganku.
Aku menangis lagi. Saat jenazah ibu
dikeluarkan dari ambulance. Aku tidak rela wajah ibu harus ditutup kain.
Bagaimana kalau ibu tidak bisa bernafas ? ibu pasti marah. Bodoh ! aku seperti
orang gila batinku menggerutu seperti itu.
Aku harus memandikan ibu, harus
mengantar ibu hingga rumah terakhirnya. Itu semua hal terakhir yang harus ku
lakukan sebelum aku terpisah dengan raga ibu. Aku hancur saat harus mengusap
sabun di kaki ibu. Aku kesal mengapa ibu tidak cerewet seperti biasa ku
mandikan. Bahkan ibu hanya diam, membeku dan tidak sepatah katapun ia
keluarkan. Aku tidak terima oarng-orang menggulingkan ke kiri dank e kanan
seenaknya. Aku seperti orang gila. Apa memang ini pertanda awal kegilaanku.
Bukan ! aku masih waras. Aku hanya butuh waktu untuk menghadi kematian yang
menjemput ibu.
Akhirnya, kain putih yang ku benci itu
menutupi seluruh bagian tubuh ibu. Aku sudah tidak bisa menatap mata ibu,
menciumi pipi dan keningnya, bahakan aku tidak bisa menyentuhnya. Kami
benar-benar terpisah. Entah ibu tahu tentang protesku ini atau tidak. Yang
jelas aku marah dan marah, entah marah pada Tuhan atau marah dengan ketololan
ibu waktu dulu.
Sudah, sudah ku tutup kematian ibu
dengan mengantarnya ke rumah abadinya. Sudah bu jangan mengikutiku, karena itu
semua sia-sia. Tidak akan mengurangi kemarahanku, kesedihanku tentang semua
ini. Aku sudah lelah. Ibu sering mempermain hatiku. Dulu ibu bilang ingin
sembuh dan pasti sembuh. Nyatanya apa ? sekarang aku ditinggalkan. Sudah bu,
ini sudah cukup membunuhku perlahan. Lebih baik ibu istirahat, biar doa-doaku
saja yang menjadi obat rinduku padamu.
Dan lagi, angka 23 seperti mengulas
seluruh memoriku, menguras otakku dan menyadarkanku bahwa masih banyak
angka-angka lain yang harus ku lewati dan itu artinya aku harus menjadi perempuan
super. Wanita super ? untuk siapa ? bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk diriku
sendiri.
Ratri GT






0 komentar:
Posting Komentar